Bidang Berbasis Lahan

Proses dalam pembentukan BAU Baseline ini merupakan pendekatan campuran antara bottom-up dan top-down. Tahapan perhitungan BAU baseline dan scenario mitigasi untuk sektor berbasis lahan, dibagi dalam tiga tahapan utama (Tabel 1):

  1. Perhitungan emisi historis (dengan referensi periode historis tahun 2006-2011)
  2. Proyeksi emisi BAU Baseline (2011 – 2020)


Metode

Untuk menghitung emisi historis digunakan metode stock-difference yang diadopsi dari pedoman IPCC 2006 – Good Practices Guidance for Land Use, Land Use Change and Forestry. Dengan metode ini cadangan karbon diukur pada dua waktu yang berbeda (2006 dan 2011).  Gambar dibawah ini menunjukkan ilustrasi Penurunan Emisi.


Gambar Perhitungan Emisi Berbasis Lahan dengan Metode Stock Difference

Tahapan kedua adalah mengestimasi proyeksi emisi BAU baseline (2010-2020), dengan scenario pertumbuhan emisi tanpa adanya intervensi mitigasi penurunan emisi. Pada dasarnya BAU Baseline bisa dibuat dengan memproyeksikan alihguna lahan dan hutan di masa mendatang. Beberapa proyeksi: 1) Proyeksi linear dari tren perubahan lahan di masa lalu; 2) Permodelan drivers/pemicu alih guna lahan dan hutan; dan 3) Skenario forward-looking berdasarkan rencana pembangunan ke depan atau RTRWP dan RPJMD.

Daerah belum ada yang memilih opsi kedua, karena keterbatasan data dan juga kapasitas. Beberapa  daerah memilih opsi ketiga, namun opsi pertama lebih banyak dipilih karena data  yang terbatas hanya memungkinkan daerah untuk memproyeksikan BAU Baseline berdasarkan tren di masa lalu. Pada saat ini masih banyak Provinsi yang belum menyelesaikan RTRWP-nya, sehingga memproyeksikan BAU Baseline berdasarkan RTRWP yang masih dalam proses memiliki tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi. Begitu juga dengan RPJMD yang sebagian besar akan berakhir 2013/2014, dan RPJMD berikutnya akan disusun setelah PILKADA dengan pemimpin daerah baru yang belum bisa diprediksi arah kebijakkannya, terutama terkait penggunaan sumberdaya lahan dan penurunan emisi. Untuk iterasi pertama, sebagian besar provinsi menggunakan Peta Penunjukkan kawasan sebagai zonasi dalam memproyeksikan perubahan penggunaan masa lampau ke masa mendatang.

BAU dihitung dengan menggunakan metode prospektif yang menggabungkan informasi tren perubahan lahan di masa lalu dan antisipasi tentang perilaku masa depan mengenai perubahan penggunaan lahan. Alat yang digunakan untuk melakukan analisa ini adalah dengan ABACUS atau dengan Software Spreadsheet seperti MS excel. Dibawah ini adalah link yang berhubungan dengan metode penghitungan dan software bantu dalam penghitungan BAU Baseline.

Panduan Perencanaan Penggunaan Lahan Untuk Mendukung Pembangunan Rendah Emisi : Link

Software REDD Abacus SP : Link

 

Data dan Asumsi

Perubahan area dan trajektori dari sistem penggunaan/penutupan lahan. Data ini berdasarkan pada peta tutupan lahan yang merupakan hasil intepretasi visual dari citra Landsat 7 ETM+, Landsat 5 TM dan SPOT 4 images yang diprojeksikan ke dalam peta thematic dengan skala 1:250,000. Peta ini membedakan 23 kelas sistem klasifikasi lahan. Data ini disediakan oleh Badan Planologi Kementerian Kehutanan (Data dapat disediakan, silahkan ajukan permintaan data melalui Sekretariat RAN-GRK). Peta tutupan lahan ini kemudian di-overlay juga dengan peta sebaran gambut yang disediakan oleh Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Kementerian Pertanian untuk menentukan data aktivitas dari lahan gambut. Lebih lanjut data ini di-overlay dengan peta Penunjukan Kawasan mengingat pentingnya zonasi ini dalam memberikan arah perubahan penggunaan lahan dan tutupan hutan di masa lampau dan di masa mendatang, maupun kebijakan atau aksi mitigasi yang bisa dilakukan per kawasan.

Rata-rata cadangan karbon dari setiap tipe penggunaan lahan dalam satu siklus waktu. Data ini berdasarkan pada hasil pengukuran di lapangan dan juga hasil-hasil penelitian. Untuk data cadangan karbon di kawasan hutan, data berasal dari Badan Planologi Kementerian Kehutanan yang berdasarkan pada hasil pengukuran berkala pada plot PSP/TSP National Forest Inventory (NFI).

 Tabel Stok Karbon Per Jenis Penutupan Lahan

Penggunaan lahan

Rata-rata Cadangan Karbon (ton C/ha)

Hutan Lahan Kering Primer

195.4

Hutan Lahan Kering Sekunder

169.7

Hutan Mangrove Primer

170

Hutan Rawa Primer

196

Hutan Tanaman

64

Semak Belukar

30*

Perkebunan

63

Permukiman

5*

Tanah Terbuka

2.5*

Rumput

4.5

Hutan Mangrove Sekunder

120

Hutan Rawa Sekunder

155

Belukar Rawa

30*

Pertanian Lahan Kering

10*

Pertanian Lahan Kering Campur

30*

Sawah

2

Tambak

0

Bandara/Pelabuhan

0*

Transmigrasi

10

Pertambangan

0

Rawa

0

Keterangan : *Update Ditjenplan Kemenhut, Desember 2012

Data faktor emisi dari gambut disediakan oleh BBSDLP berdasarkan hasil studi literature dan pengukuran di lapangan. Faktor emisi dari gambut selain berasal dari perubahan cadangan biomassa tanaman, juga dari dekomposisi gambut yang dalam hal ini didekati dari faktor kedalaman drainase.

Tabel Faktor Emisi dari Dekomposisi Gambut

PENGGUNAAN LAHAN

Asumsi kedalaman drainase (cm)

Emisi CO2 (t/ha/th)

Hutan gambut primer

0

0

Hutan gambut tebangan

30

19

Karet rakyat

50

32

Kelapa sawit

60

38

HTI

50

32

Tanaman campuran/ Agroforest

50

32

Belukar gambut

30

19

Tanaman semusim

30

19

Pemukiman

70

45

Rumput/resam

30

19

Sawah

10

6

Pertambangan

100

64

Catatan:
Emisi t CO2/ha/tahun = kedalaman drainase (cm) * 0.91 (menurut Hooijer 2006, 2010)
Modifikasi untuk koreksi root respiration: ~30%  (menurut Fahmudin, et al. 2010)
Emisi t CO2/ha/tahun = 0.7 * kedalaman drainase (cm) * 0.91 (menurut Hooijer 2006, 2010)
Sumber: Fahmuddin et al, 2013

Copyright 2012.

SEKRETARIAT RAN-GRK, Wisma Bakrie II, 6 th Floor, Jl. H.R. Rasuna Said, Kav B-2, Jakarta 12920
Office phone: (021)57942105, Fax: (021) 57942106, e-mail: info[at]sekretariat-rangrk.org