Energi (Pembangkit)

Sektor Energi (Pembangkit)

 

Sektor pembangkit di Indonesia sangat bergantung pada minyak bumi. Penggunaan batu bara, minyak dan gas untuk menghasilkan energi menjadikan sektor ini menjadi salah satu sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Data tahun 2005 menunjukkan bahwa permintaan energi di Indonesia berkontribusi sebesar 26,6% terhadap emisi total GRK. Emisi GRK di sektor energi (pembangkit) terjadi melalui pembakaran minyak bumi untuk menghasilkan listrik. Listrik selanjutnya didistribusikan ke industri dan rumah tanggan. Besarnya emisi GRK dari sektor energi ini dapat diperoleh dengan mengalikan konsumsi listrik (kWh) dengan faktor emisi GRK yang telah ditentukan. 

Gambar 1 menunjukkan bahwa komposisi energi di Indonesia didominasi oleh minyak, gas dan batu bara dengan kontribusi sebesar 95% dari total energi yang dihasilkan. Dengan tingkat elektrifikasi 66% saat ini, Indonesia menargetkan tingkat elektrifikasi sebesar 90% di than 2020 (RUPTL, 2011). Target ini harus menjadi perhatian mengingat Kementrian ESDM memperkirakan bahwa komposisi energi di Indonesia di masa mendatang masih akan didominasi oleh  minyak bumi, khususnya batu bara (Pusdatin ESDM, 2007). Jika tidak dilakukan intervensi, sektor energi (pembangkit) akan terus menghasilkan emisi GRK dalam jumlah yang besar.

Untuk mengatasi masalah ini, berbagai aksi mitigasi dapat dilakukan. Dalam panduan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK), terdapat dua aksi mitigasi terkait sektor energi yaitu gerakan hemat energi dan pengembangan sumber-sumber energi alternatif dan terbarukan. Aksi mitigasi dalam RAN-GRK tersebut dimaksudkan untuk mengurangi emisi dari sektor energi dari dua sisi, yakni dari sisi pemasokan (produksi energi) dan sisi permintaan (konsumsi energi).

Penghematan energi (efisiensi energi) dapat dilakukan dengan berbagai aksi seperti beralih ke peralatan rumah tangga dan mesin-mesin industri yang lebih ramah lingkungan. Dari sisi pemasokan energi, emisi GRK dapat dikurangi dengan meningkatkan persentase jumlah sumber energi terbarukan dalam komposisi energi di Indonesia. Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya air, biogas, angin dan matahari yang melimpah. Sayangnya, potensi tersebut belum dimaksimalkan karena kurangnya insentif untuk mendukung pengembangan sumber energi terbarukan.

Ketergantungan pada minyak bumi dan target elektrifikasi yang tinggi sebaiknya dipandang sebagai kesempatan. Kondisi ini membuka kesempatan untuk memperkenalkan dan mengembangkan energi terbarukan jika dukunga kebijakan dan insentif tersedia. Kebutuhan energi di Indonesia sebagian besar dipenuhi dengan sistem energi terpusat melalui transmisi dalam pulau dan antar-pulau. Sebagai negara kepulauan, sistem terpusat ini cocok diterapkan di pulau-pulau besar. Namun, sistem ini kurang sesuai diterapkan untuk pulau-pulau kecil atau pulau-pulau yang jauh mengingat kondisi geografis dan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menyambungkan listrik ke tempat-tempat ini. Oleh karena itu sistem energi yang terdesentralisasi harus diperkenalkan untuk memenuhi kebutuhan energi di pulau-pulau kecil dan pulau-pulau yang letaknya jauh. Pengembangan energi terbarukan dan pengenalan gerakan energi berbasis masyarakat dapat mendukung terwujudnya kethanan energi yang tersentralisasi. Dengan sumber daya energi yang melimpah, pengalihan ke energi terbarukan mungkin dilakukan. Lampiran Peraturan Presiden No. 61/2011 menyebutkan beberapa jenis energi terbatrukan yang dapat digunakan dalam aksi mitigasi di bidang energi yaitu pembangkit air mini dan mikro, matahari, angin, biomas dan biogas.

Faktor lain yang dapat mempercepat pengembangan energi terbarukan adalah feed in tariff (FIT). Pemerintah Indonesia saat ini telah menerapkan kebijakan FIT. Hanya saja, kelemahan kebijakan ini adalah masih adanya ketimpangan antara FIT dan biaya produksi listrik. Baru-baru ini, pemerintah merevisi harga FIT. Revisi ini tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No. 4/2012 tentang Harga Pembelian Tenaga Listrik oleh PLN dari Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan Skala Kecil dan Menengah atau Kelebihan Tenaga Listrik. Kenaikan ini diharapkan dapat mendorong para investor untuk memanfaatkan potensi energi terbarukan di Indonesia 

Sumber: (Permen ESDM No. 4/2012)

Terdapat berbagai cara untuk mengurangi emisi dari sektor energi, baik dari sisi pemasokan maupun permintaan. Subsidi minyak bumi harus perlahan-lahan dikurangi dan dialihkan ke pilihan-pilihan energi yang lebih ramah lingkungan. Dukungan kebijakan berupa harga pembelian listrik yang sesuai untuk energi alternatif dan terbarukan serta edukasi masyarakat yang berkelanjutan merupakan faktor penting yang berperan dalam pengurangan emisi dari sektor energi (pembangkit). 

Copyright 2012.

SEKRETARIAT RAN-GRK, Wisma Bakrie II, 6 th Floor, Jl. H.R. Rasuna Said, Kav B-2, Jakarta 12920
Office phone: (021)57942105, Fax: (021) 57942106, e-mail: info[at]sekretariat-rangrk.org