Energi profil Indonesia

Profil Kelompok Bidang Energi di Indonesia

 

Sektor energi merupakan salah satu sumber emisi yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Ekstraksi dan pembakaran minyak bumi disebut sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global. Sebagai salah satu penghasil emisi terbesar di dunia, Indonesia menempatkan sektor energi sebagai sumber emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar kedua setelah sektor berbasis lahan (pertanian, kehutanan dan lahan gambut) menurut perhitungan yang dilakukan di tahun 2000 (SNC, 2010). Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) membagi kelompok bidang energi kedalam tiga sektor yakni sektor energi (produksi dan konsumsi energi), transportasi dan industri. Emisi dari kelompok bidang energi di Indonesia berasal dari ketiga sektor tersebut.

Emisi dihasilkan dari pembakaran minyak bumi. Kilang minyak dan pembangkit listrik memroses minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan energi. Listrik dan minyak bumi yang telah diproses selanjutnya akan digunakan oleh sektor transportasi, industri, rumah tangga dan jasa. Sektor transportasi merupakan pengguna minyak bumi yang telah diproses sedangkan sektor industri, rumah tangga dan jasa mengonsumsi baik listrik maupun minyak bumi yang telah diproses (Lihat Gambar 1).

Berdasarkan Indonesia Second National Communication under the UNFCCC (disingkat SNC), emisi karbon dioksida (CO2) dari sektor energi meningkat tajam dari tahun 2000 hingga 2005. Di tahun 2000, sektor energi menghasilkan sekitar 200,000 gG CO2 yang mencapai 300.000 gG in 2005 di tahun 2005. Ini berarti bahwa emisi karbon doksida meningkat sekitar 50% hanya dalam kurun waktu lima tahun. Dari tahun 2000 hingga 2005, listrik dan minyak menyumbang emisi karbon dioksida terbesar diikuti industri dan transportasi (SNC, 2010). 

Indonesia saat ini menghadapi trilema energi. Trilema ini merujuk pada ketahanan energi, perubahan iklim dan pemenuhan kebutuhan energi (An environmental perspective on energy development in Indonesia, 2012). Trilema ini menggambarkan situasi yang dihadapi Indonesia saat ini dalam memenuhi kebutuhan energinya. Tingkat elektrifikasi Indonesia saat ini adalah 68% dan di tahun 2020 tingkat elektrifikasi tersebut ditargetkan mencapai 90%. (RUPTL PLN, 2011). Target ini di satu sisi mungkin sejalan dengan pemenuhan kebutuhan energi di Indonesia namun akan bertentangan dengan prinsip pengurangan emisi jika pasokan energi masih sangat bergantung pada minyak bumi. Selain itu, ketergantungan pada minyak bumi juga akan menimbulkan masalah yang lain terkait ketahanan energi mengingat bahwa minyak bumi adalah sumber energi yang tidak terbarukan.

 

Secara umum, tantangan pembangunan energi di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Subsidi yang tinggi untuk minyak bumi. Sejak tahun 2000, Indonesia telah berubah dari negara pengekspor minyak yang handal menjadi negara pengimpor minyak. Subsidi minyak bumi yang berkelanjutan serta semakin naiknya biaya produksi  menjadikan Indonesia tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri (Renewable Energy Market Assessment Report: Indonesia, 2010). Subsidi ini mempertahankan harga minyak bumi agar tetap rendah. Hal ini mendorong konsumsi minyak bumi yang tinggi yang pada akhirnya akan menghasilkan emisi GRK sebagai akibat dari pembakaran minyak bumi.
  2. Lemahnya insentif untuk energi terbarukan (Renewable Energy Market Assessment Report: Indonesia, 2010). Meskipun Indonesia kaya akan sumber-sumber energi alternatif seperti biogas, panas bumi, angin dan matahari, produksi listrik menggunakan sumber daya tersebut tidak menunjukkan adanya peningkatan yang berarti. Hal ini disebabkan oleh kurangnya dukungan kebijakan dan insentif kepada para pemangku kepentingan yang tertarik untuk mengembangkan energi terbarukan.
  3. Dibutuhkan investasi awal yang tinggi untuk energi terbarukan. Beberapa energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya dan bayu membutuhkan modal awal yang tinggi, sehingga pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dan bayu sulit dilaksanakan jika tidak dibarengi dengan  kebijakan dan dukungan politik.
  4. Harga listrik yang murah yang ditawarkan oleh PLN kepada para pemasok listrik. Hal ini mengakibatkan rendahnya investasi di bidang energi sehingga kapasitas listrik khususnya di luar Jawa menjadi berkurang selama beberapa tahun terakhir (Guidelines for Implementing Greenhouse Gas Emission Reduction Action Plan, 2011).

Dengan target penurunan emisi sebesar 26%, Pemerintah Indonesia mencanangkan tiga kegiatan mitigasi dalam RAN-GRK terkait kelompok bidang energi yaitu: menggalakkan gerakan hemat energi, pengembangan energi alternatif dan energi terbarukan, serta pengalihan ke moda transportasi rendah emisi (Guidelines for Implementing Greenhouse Gas Emission Reduction Action Plan, 2011).

 

Mitigasi perubahan iklim dan pemenuhan kebutuhan energi sebenarnya dapat dilakukan bersama dan dapat menguntungkan. Meningkatnya permintaan energi seharusnya dapat dilihat sebagai sebuah kesempatan untuk memperkenalkan sumber-sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Aksi-aksi mitigasi tersebut juga harus melibatkan masyarakat untuk memastikan bahwa gerakan energi rendah emisi dapat berkelanjutan. Pengalihan ke energi rendah emisi tidak hanya akan memberi manfaat mitigasi, namun juga dapat berdampak positif terhadap pendapatan penduduk serta manfaat kesehatan dalam bentuk kualitas udara yang lebih baik serta lingkungan yang lebih sehat. Pertumbuhan ekonomi lokal dapat dilakukan dengan menggunakan sumber daya dalam bentuk produksi energi berbasis masyarakat. Indonesia saat ini sedang berjalan menuju ke arah tersebut dan RAN-GRK merupakan langkah pertama untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. 

Copyright 2012.

SEKRETARIAT RAN-GRK, Wisma Bakrie II, 6 th Floor, Jl. H.R. Rasuna Said, Kav B-2, Jakarta 12920
Office phone: (021)57942105, Fax: (021) 57942106, e-mail: info[at]sekretariat-rangrk.org