Articles

Mengolah Limbah Sawit Menjadi Energi Alternatif

Bengkulu – Provinsi Bengkulu merupakan salah satu provinsi yang kekurangan energi. Saat ini Provinsi masih sangat bergantung pada energi yang bersumber dari fosil. Diharapkan energi-energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dapat menjadi solusi terhadap permasalahan energi di Provinsi Bengkulu. Salah satunya limbah kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif. Demikian sambutan yang disampaikan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bappeda Provinsi Bengkulu, Iskandar Zo, pada workshop “Pemanfaatan Limbah Sawit untuk Energi dan Program RAD-GRK Provinsi Bengkulu”, di Bengkulu, Kamis, 4 Agustus lalu.

Acara yang didukung Sekretariat Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) dan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dihadiri Bappeda Provinsi Bengkulu, tim Sekretariat RAN-GRK, ICCTF, GIZ GE-LAMA-I (Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit Green Economy and Locally Appropriate Mitigation Actions in Indonesia) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Dody Virgo selaku PPK ICCTF (Pejabat Pembuat Komitmen ICCTF) Bappenas memaparkan mengenai program pendanaan perubahan iklim yang bersumber dari ICCTF. ICCTF merupakan instrumen pemerintah Indonesia dalam mencapai target penurunan emisi. Sehingga tujuan ICCTF mengarusutamakan isu perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan nasional, provinsi, kota/kabupaten dan mengimplemenasikan kegiatan mitigasi dan adaptasi penurunan emisi GRK.

Terdapat 3 focus area yang didanai ICCTF yaitu mitigasi berbasis lahan, energi, serta ketahanan dan adaptasi. Focus area pada mitigasi berbasis energi adalah penurunan emisi dengan supply dan demand energi, konservasi dan efisiensi energi, pengembangan teknologi pembangkit energi rendah karbon.

Sementara itu, Kepala Sekretariat RAN-GRK, Atjeng Kadaryana, menyampaikan tiga hal penting antara lain, RAD-GRK Provinsi Bengkulu, potensi pemanfaataan limbah cair kelapa sawit, potensi penurunan emisi dari limbah cair kelapa sawit.

Selanjutnya, Ade Cahya dari GIZ GE-LAMA-I menjelaskan mengenai sumber emisi gas rumah kaca industri minyak sawit berasal dari beberapa hal, antara lain penggunaan bahan bakar fosil. Penggunaan pupuk, biogas POME (Palm Oil Mill Effluent), konversi hutan dan dekomposisi lahan gambut dalam pengembangan kebun, konversi lahan bercadangan karbon rendah. Limbah kelapa sawit antara lain limbah padat (tandan kosong, cangkang, serabut) serta limbah cair (POME dan Biogas). Limbah cair kelapa sawit atau POME  melepaskan gas Metana (CH4) yang berbahaya bagi lapisan atmosfer bumi. Namun, kandungan gas Metana tersebut, melalui pengolahan dapat dikonversi menjadi energi listrik. Peluang tersebut dapat dikembangkan dan dijadikan usulan RAD-GRK Provinsi Bengkulu di masa yang akan datang.

Dari pihak perusahaan, PT SMI yang diwakili oleh Daniel menyatakan beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memberikan pembiayaan antara lain resiko harus dialokasikan kepada pihak yang paling tepat untuk mengelola dan meminimalisir serta iklim regulasi yang kondusif.

Tindak lanjut dari kegiatan ini, Bappeda sebagai koordinator akan mengundang stakeholder yang memiliki peran dalam memanfaatkan limbah kelapa sawit antara lain Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perusahaan kelapa sawit. (SekRAN-GRK)

Copyright 2012.

SEKRETARIAT RAN-GRK, Wisma Bakrie II, 6 th Floor, Jl. H.R. Rasuna Said, Kav B-2, Jakarta 12920
Office phone: (021)57942105, Fax: (021) 57942106, e-mail: info[at]sekretariat-rangrk.org